Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Aku kira aku sedang berjalan menuju tujuan. Ternyata salah.
Bukan karena sok tahu. Mungkin lebih tepatnya karena terlalu percaya feeling.
Di tempat asing, kadang feeling memang bekerja lebih cepat daripada akal sehat.
Aku sedang mencari makanan lokal Xi’an. Katanya, ada ayam labu atau hu lu yang bisa ditemukan di kedai sederhana.
Bukan restoran besar, bukan tempat mewah, melainkan kedai kecil yang konon justru menyimpan cita rasa lokal.
Aku pun berjalan tanpa peta. Semakin jauh melangkah, semakin kupikir semakin dekat.
Seolah-olah yang jauh terasa dekat di hati.
Tapi, makanan yang kucari tak juga kutemukan.
Kecewa? Kali, ya.
Hmm... lebih tepatnya, mulai terasa kesal.
Mengapa tidak dari tadi balik arah saja? pikirku.
Aku pun mulai melihat-lihat sekitar. Kalau memang makanan yang kucari tidak ketemu, mungkin lebih baik mencari tempat lain.
Barangkali di mal, food court, atau restoran yang ada di sekitar sini.
Toh, perut juga tidak bisa diajak berdebat terlalu lama.
Akhirnya, kuputuskan berhenti melangkah dan masuk ke mal yang berada di hadapanku.
Lelah, capek, dan rasa kecewa bercampur menjadi satu. Setidaknya, di dalam mal nanti aku bisa duduk sebentar, mencari makan, sekaligus mengistirahatkan kaki.
Kuluruskan niat menuju lift yang tersedia. Kupencet tombol menuju lantai 6, tempat restoran berada.
Papan nama dan flyer makanan terpajang di depan restoran yang tampak mewah.
Tak kusangka, sebuah pamflet menampilkan gambar ayam.
Apakah ini ayam yang sedang kuburu? Aku tak begitu yakin.
Namun, kurasa tempat ini sudah tepat. Tanpa ragu, kumasuki restoran itu.
Seorang pelayan menghampiriku dan menyodorkan menu.
Mataku langsung tertuju pada sebuah gambar makanan yang terasa begitu familier. Gambar itu seolah sudah terpatri di pikiranku.
Hmm... jangan-jangan, inilah makanan khas yang sejak tadi kucari.
Tak salah lagi, seekor ayam seharga 78 yuan pun kupesan. Namanya ayam labu.
Mengapa disebut ayam labu? Apakah karena dimasak di dalam labu, seperti labu yang kukenal
Rasa penasaran pun semakin besar. Kutatap ayam labu itu, seolah ia sedang menantang sorotan mataku.
Pasrah, ia tak bersuara ketika kusentuh dan kucicipi dagingnya.
Ternyata, dagingnya lunak, sementara kulitnya renyah. Sekilas, mirip ayam penyet yang biasa kukenal.
Namun, kerenyahannya berbeda. Begitu digigit, terdengar suara kruyuk yang begitu menggugah selera.
Sedap! Gumamku dalam hati. Ternyata, rasa ayam ini cocok di lidahku.
Pengalaman ini membuatku berpikir bahwa daging ayam di mana pun mungkin sama, tetapi cara koki meracik bumbu dan mengolahnya mampu menghadirkan cita rasa yang berbeda.
Terkadang, perjalanan memang tak harus selalu mengikuti arah yang telah direncanakan.
Tersesat pun bisa membawa kita pada pengalaman berbeda, menemukan hal-hal baru, dan menikmati sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Salah jalan ternyata bukan berarti salah tujuan. Justru dari jalan yang keliru, terkadang lahir banyak cerita.***







Posting Komentar