Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Banyak jenis roti di Tiongkok, hingga terkadang sulit menyebutkannya satu per satu.
Sekilas, bentuknya tampak sama, tetapi penyebutannya bisa berbeda-beda.
Roti tepung di Wenzhou, misalnya, bisa memiliki nama yang berbeda di daerah lain.
Karena itu, secara umum, orang cukup menyebutnya roti, yang terbuat dari tepung terigu atau gandum.
Apalah arti sebuah nama!
Padahal, roti tidak pernah lepas dari budaya, tradisi, dan daerah asalnya.
Roti di Chengdu, misalnya, dikenal dengan sebutan Guokui (锅盔), meskipun nama dan bentuk yang serupa belum tentu merujuk pada jenis roti yang sama.
Ada yang dipanggang dalam oven, ada pula yang digoreng atau dibakar.
Perbedaan cara pengolahan ini menghasilkan cita rasa dan tekstur yang berbeda pula.
Begitu juga dengan isiannya, yang bisa berupa daging sapi atau babi.
Suatu hari, aku memesan roti di Chengdu.
Dari foto pada menu yang disodorkan, bentuknya tampak sama dengan roti yang pernah kujumpai di Wenzhou, Provinsi Zhejiang.
Aku yakin keduanya merupakan jenis roti yang sama, terbuat dari tepung terigu dan dipanggang dalam tungku api.
Namun, siapa sangka, roti yang tersaji di hadapanku ternyata berbeda dari yang kubayangkan.
Roti itu adalah Guokui, bukan Shaobing (烧饼) seperti yang pernah kunikmati di Wenzhou.
Aku sempat mengira roti tersebut sebagai Jianbing (煎饼), kudapan berbahan adonan tepung yang dimasak di atas wajan.
"Itu tak sama," seruku dalam hati.
Roti yang pernah kulahap di Wenzhou adalah Shaobing, roti panggang tradisional yang masih hangat, baru keluar dari tungku.
Ternyata, meski tampak serupa, setiap jenis roti memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi cara pengolahan, tekstur, maupun cita rasanya.
Apalah arti sebuah nama, jika pada akhirnya nama itulah yang membedakan rasa dan pengalaman?***












Posting Komentar