Liburan di Xining, Ada yang "Wah"

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Dunia pariwisata memang menarik. Apalagi yang dijalani merupakan daerah yang eksotis. Nyaman, lancar, dan alami.

Namun tak terbantahkan, kini banyak daerah pariwisata dipromosikan secara berlebihan melalui media mainstream, TikTok, Instagram, dan YouTube. 

Sehingga, suatu wilayah yang sebenarnya tak terlalu menarik pun tak luput menjadi “wah” dan mantap.

Bagi para wisatawan, perlu cermat dalam memilih tujuan wisata. Tak hanya asal pilih, “asal pergi”, tetapi juga perlu tahu maksud dan tujuan ke mana kita pergi. 

Ketika seseorang berkunjung ke suatu wilayah, misalnya Xinjiang, Tibet, atau Xining, jangan hanya melihat pemandangan. 




Perlu juga memahami nilai-nilai budaya dan sejarah dari daerah tersebut.

Sebab, perjalanan wisata bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada pengalaman, budaya, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan yang dapat kita pelajari dari setiap daerah yang kita kunjungi.

Lalu, bagaimana warga Xining, Qinghai, di Tiongkok, yang terdiri dari berbagai kelompok etnis seperti Han, Hui, dan Tibet, hidup berdampingan dan bersosialisasi dalam keseharian mereka?

Suku mayoritas di Xining adalah Han. Mereka juga bergaul dengan kelompok minoritas Hui dan Tibet dalam kehidupan sehari-hari. 

Masyarakat dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda dapat beraktivitas berdampingan tanpa hambatan berarti.




Tak heran, kedai, toko, dan restoran Chongqing hotpot maupun kedai yang menjual daging babi dapat berdampingan dengan kedai milik masyarakat Hui yang menjual mi tarik khas Muslim, sate kambing, dan daging domba.

Aku membeli beberapa masakan daging babi yang dipajang di trotoar sebuah kedai. Masakan dari telinga babi, usus, dan kaki babi menjadi santap siangku. 

Tak jauh dari kedai babi ini, aroma wangi sate kambing pun ikut tercium saat aku memesan hidangan babi.

Semua warung berjalan sebagaimana adanya, dalam kehidupan masyarakat Xining sehari-hari.

Pada akhirnya, wisata bukan hanya melihat pemandangan yang “wah”, tetapi juga melihat nilai budaya dan tata kehidupan masyarakat. 




Semua itu bisa menjadi renungan dan memberikan kita cara pandang yang berbeda.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut