Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Kedai itu ternyata tak sebesar yang kuduga.
Aku duduk di salah satu meja yang kosong dan menunggu pelayan datang melayani.
Namun, yang kutunggu tak kunjung datang.
Malah seorang ibu pelayan datang mengelap meja, sambil melihatku dengan heran, seolah bertanya, ada apa?
Barulah kusadari, orang-orang ternyata sedang mengantre di depan kasir untuk melihat menu dan memesan makanan.
Sementara aku malah duduk duluan, tanpa melihat menu dan memesan.
Pantas saja tak ada yang datang melayani. Rupanya, aku yang salah prosedur.
Itulah adat setempat, tak selalu sama dengan tempat lahirku.
Aku pun ikut mengantre demi seporsi biangbiang mian.
Tak apalah, bukankah aku memang ingin mencoba rasa khas mi lokal?
Seporsi mi seharga 28 yuan. Seperti apa rupanya?
Seberapa besar porsinya? Dan yang paling membuatku penasaran, seperti apa rasanya?
Aku pun menunggu sambil memperhatikan antrean. Kali ini, tentu saja, aku tak akan salah lagi.
Done sudah. Sebaskom mi disajikan di hadapanku. Aku langsung terperanjat.
Astaga! Baskom sebesar ini bisa buatku cuci muka. Kok isinya mi? Lebar dan jumbo pula ukurannya!
Aku menatapnya beberapa saat. Dalam hati mulai berpikir, apa mi sebanyak ini tidak menusuk sampai ke ususku yang sudah melingkar?
Apa ini enak?
Mi lebar itu kucicipi. Suapan pertama membuatku berhenti sejenak.
Ini ada aroma yang beda. Minyaknya… x, gumam hatiku.
Tapi apa benar karena minyaknya sehingga aromanya berbeda? Kuyakin bukan itu.
Suapan kedua masuk ke mulut. Mulai terasa mienya kenyal, dengan tekstur yang agak alot seperti karet.
Rasanya pun mulai terasa di lidah. Enak juga, batinku berbisik.
Mungkin ada bumbu mala yang membuatnya sedap. Atau minyaknya?
Atau jangan-jangan ada aroma daging yang membuat rasanya semakin menggoda? Aku tak tahu mana yang benar.
Yang jelas, lidahku menikmati, sementara pikiranku masih sibuk menebak-nebak: seperti apa sebenarnya biangbiang mian ini?
Bakmi lebar atau mi ayam halal? Tak bisa kupastikan.
Tapi satu hal yang kudapat dari pengalaman ini: bukan soal besar atau kecilnya baskom sajian makanan, melainkan bagaimana suatu rasa bisa terasa sedap di lidah.
Ternyata, yang besar belum tentu berlebihan, dan yang sederhana belum tentu biasa.
Yang penting, pernah mencoba dan merasakan sendiri.***







إرسال تعليق