Oleh: Iman Sjahputra
YOGYAKARTA - Kota Yogya terkesan semi-modern. Selain gedung-gedung tinggi, kota pelajar ini juga dikenal tetap mempertahankan tradisi dan budayanya.
Bangunan-bangunan baru terus tumbuh, tetapi gedung lama pun tidak serta-merta dimusnahkan.
Keduanya seolah hidup serasi berdampingan, menciptakan wajah Yogya yang modern sekaligus tetap kental dengan nuansa masa lalu.
Seiring perkembangan zaman, budaya leluhur tetap dipertahankan. Bagi sebagian besar orang, budaya Jawa yang terus dilestarikan tentu sangat menarik, terutama bagi orang luar yang datang dan bagi mereka yang pernah tinggal lama di Yogya.
Ingatan tentang masa lalu selalu membuat orang ingin datang kembali.
Kenangan seperti duduk nongkrong di pelataran, mengayuh becak bersama sekelompok orang, atau naik andong atau delman yang ditarik kuda berkeliling Malioboro menjadi bagian dari cerita yang sulit dilupakan.
Begitu juga dengan kulinernya. Gudeg dan jajanan pasar, termasuk aneka kue tradisional, selalu membawa kenangan tersendiri tentang Yogya.
Mungkin orang tak bakal lupa pada sepotong kue bulat berwarna putih yang dibuat dari beras ketan.
Ketan tersebut dimasak dan dikukus dengan api kecil, kemudian ditumbuk menggunakan alat tumbuk hingga menjadi adonan yang padat.
Rasanya gurih, dengan tekstur kenyal dan lengket.
Orang daerah Yogya sangat hafal dengan jenis kue ini. Panggilannya jadah.
Kita tentu masih ingat dengan jadah dari Kaliurang. Siapa lagi kalau bukan Mbah Carik.
Kue tradisional ini sudah melekat dalam ingatan orang-orang yang pernah berkunjung ke Kaliurang.
Mbah Carik, yang pernah menjadi sekretaris desa, dikenal sebagai salah satu pelopor pembuat jadah ini.
Beberapa jenis menu tersedia di kedai sederhana ini.
Yang utama, tentu saja si jadah putih salju. Rasanya kurang lengkap kalau tidak dipadukan dengan tempe bacem. Keduanya seperti kombinasi yang serasi.
Aku teringat pada susunan jadah, tempe bacem, dan tahu—semacam “hamburger Indonesia” dengan paduan rasa manis, asin, dan sedikit gosong yang menciptakan aroma tak biasa.
Namun, bagi orang yang berkunjung, bukan semata-mata rasa yang dicari.
Suasana jadul kedai justru mengingatkan pada makanan tradisional yang pernah dicicipinya.
Kedai yang dirintis Mbah Carik sejak 1950 itu seakan membawa kita kembali pada zaman dahulu, ketika makanan sederhana seperti jadah, tempe bacem, dan tahu memiliki cerita dan kenangan tersendiri.***



















إرسال تعليق