Kedai Kopi Djoen: Secangkir Rasa dan Kenangan

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Aku duduk termenung di sebuah kedai. Pikiranku melayang, bukan karena kepala pusing atau badan lelah. 

Di sekitar mejaku terdapat meja-meja sederhana berbentuk bulat dengan alas marmer. 

Cangkir dan gelas menghiasi meja-meja yang tersedia.

Aku bertanya dalam hati, mengapa kedai yang sudah tua ini tetap ramai, dengan tamu yang masuk dan keluar seolah-olah tanpa berhenti. 

Apa cita rasa yang membuat tamu-tamu mampir?



Ataukah kenangan masa lalu yang telah melekat sejak kedai ini berdiri pada tahun 1935? Ataukah karena harganya yang tidak mahal?

Aku tertarik pada hiasan dan pajangan berupa peralatan serta mesin-mesin kuno.

Barangkali, di dalamnya juga terdapat barang-barang jadul yang menyimpan cerita masa lalu. 

Kesemua pertanyaan ini bagaikan benang kusut yang menimbulkan rasa penasaran.



Orang yang percaya pada ilmu Feng Shui mungkin akan berkata, “Feng Shui, apa ya?”

Mungkin hal itu pula yang menjadi pedoman pemilik dalam mengelola kedai ini dengan sebaik dan sebisa mungkin. 

Rasa hanyalah bumbu penyedap yang menjadi pendamping setia.

Aku memesan secangkir kopi hitam.



Rasanya tak mungkin semua orang sependapat bahwa kopi itu enak dan sedap, karena setiap orang memiliki selera dan pendapat yang berbeda.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut