Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Chengdu bukan hanya identik dengan panda, meskipun kota ini selalu dikaitkan dengan satwa menggemaskan tersebut.
Berkunjung ke Chengdu, wisatawan hampir tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melihat dan mengamati panda, terutama di pusat penangkaran panda raksasa.
Namun, selain panda, ada satu kata yang juga melekat kuat dalam ingatan wisatawan yang berkunjung ke Chengdu, yaitu mala. Mala merupakan sensasi khas dalam kuliner Sichuan yang memadukan rasa pedas dan kesemutan di lidah.
Perpaduan lada Sichuan dan cabai bukan hanya menghadirkan rasa pedas yang menyengat, tetapi juga sensasi kebas yang unik, seolah-olah lidah sedang disuntik anestesi lokal.
Apakah setiap hidangan pedas di Chengdu selalu mengandung mala?
Benarkah semua makanan di kota ini harus menghadirkan sensasi pedas dan kebas?
Saya sempat meragukan anggapan tersebut. Namun, ketika mencicipi seporsi udang yang dimasak di atas bara api kecil, aroma mala seolah tak pernah absen dari racikan bumbunya.
Sensasi pedas dan aroma rempahnya begitu kuat, menggoda selera bahkan sebelum hidangan itu menyentuh lidah.
Bagi mereka yang kurang menyukai makanan pedas, mala mungkin justru terasa mengganggu kenikmatan hidangan.
Aroma rempah yang begitu kuat dan sensasi kebas di lidah terkadang menutupi cita rasa asli bahan makanan.
Namun, bagi pencinta kuliner Sichuan, justru di situlah letak daya tarik mala, sebuah karakter rasa yang membuat masakan Chengdu memiliki identitas tersendiri.***




إرسال تعليق