Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Masakan di Kota Tianshui ini, kata orang-orang Tianshui, termasuk pedas.
Bagi orang Indonesia, barangkali hal ini merupakan sesuatu yang lumrah.
Mungkin karena cuacanya dingin, atau bisa saja karena sudah menjadi kebiasaan setempat.
Maka, hidangan yang disajikan pun sedikit disesuaikan dengan selera dan adat setempat.
Kala aku berada di sebuah kedai yang katanya merupakan kedai tua, aku mulai melihat perbedaan itu.
Kedai ini sudah berusia sekitar tiga puluh tahunan. Menu yang ditawarkan beragam.
Apa? Kesemuanya masakan lokal.
Yang paling mudah, ya, “mie goreng”.
Satu rasa mungkin kurang. Aku pesan dua porsi mie yang berbeda.
Mana yang lebih enak? Mala atau yang biasa?
Rasa mala, katanya, pedas dan membuat lidah kebas laksana es membeku.
Tapi bukankah aku ingin merasakan kepedasan yang katanya orang lokal suka dan gemari?
Maka, kucoba mala itu.
Pedasnya datang perlahan, lalu menjalar. Lidahku mulai kebas.
Ada rasa panas, tetapi juga sensasi seperti mati rasa.
Aku tersenyum sendiri.
Barangkali, begitulah cara sebuah kota memperkenalkan dirinya: bukan melalui kata-kata, melainkan lewat rasa.
Dan di situlah aku mulai memahami perbedaan itu.
Bagi mereka, mungkin ini biasa. Bagiku, ini pengalaman.***



Posting Komentar