Nasi Kerabu: Sepiring Identitas

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Apalah arti sebuah nama? Kata orang, it does not make sense. 

Kadang, nama menjadi sebuah tanda identitas. Tak lain, ia hanya semacam julukan.

Namun, kala berbagai macam nasi dipajangkan, berbagai pertanyaan pun muncul: “Itu apa?” dan “Ini apa?”

Seperti di Malaysia, negeri tetangga, berbagai teka-teki pun bermunculan: nasi ulam, nasi melati, nasi lemak, bahkan nasi kerabu. 

Sebagian orang barangkali sudah memahami perbedaannya, namun tak sedikit pula yang masih bertanya-tanya: makanan apa itu?

Sebuah nama boleh jadi berbeda, tetapi inti dari sebuah resep makanan terkadang hampir sama.

Nasi kerabu, misalnya. Mendengar namanya saja mungkin terasa canggung di telinga.

Seporsi nasi dengan cita rasa yang khas, lalu hadir dalam warna biru—bukankah sekilas ia mengingatkan kita pada nasi lemak? 

Mungkin saja orang punya argumentasi masing-masing. 

Tetapi, satu pertanyaan sederhana masih tersisa: mengapa harus berwarna biru?

Di situlah uniknya: bisa sama, tetapi tak serupa.

Cara penyajian dan bahan-bahannya mungkin memiliki kemiripan dengan hidangan nasi lainnya, tetapi warna birunya menghadirkan sesuatu yang lain. 

Bukankah warna itu justru menjadi tanda identitas? 

Sesuatu yang membuat nasi kerabu berbeda, sekaligus membuat setiap orang yang melihatnya bertanya-tanya dan penasaran untuk mencicipinya.

Barangkali, makanan memang tidak selalu hanya tentang rasa. 

Ada nama, warna, cara memasak, dan cerita yang ikut menyertainya.

Sepiring nasi kerabu akhirnya bukan sekadar hidangan, melainkan sebuah identitas yang hadir di atas meja.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut