Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Ke Penang, Malaysia, seolah kuliner merupakan kewajiban ritual yang tak bisa ditinggalkan.
Bukan semata karena pilihan masakannya begitu banyak, tetapi karena variasi menunya selalu menjanjikan rasa penasaran.
Setiap kali datang ke Penang, selalu muncul pertanyaan yang sama: mau makan apa dan di mana?
Sebab, waktu yang singkat tak pernah cukup untuk menjelajahi seluruh kekayaan kulinernya.
Di antara begitu banyak pilihan, ada satu warisan kuliner yang selalu menarik perhatian: masakan Nyonya–Baba, atau yang lebih dikenal sebagai masakan Peranakan.
Masakan Nyonya–Baba tak hanya terkenal dengan kekayaan rempah dan bumbunya.
Sajian yang dihidangkan kadang membuat lidah terasa panas.
Bukan semata karena pedas, tetapi juga karena perpaduan belacan, cabai, santan, dan rasa asam yang begitu kuat dan khas.
Seperti yang saya rasakan ketika mencicipi gulai ikan asam di restoran Ivy’s Nyonya Cuisine.
Restoran Peranakan ini telah menyajikan masakan Nyonya selama lebih dari 15 tahun dan dikenal dengan cita rasa yang konsisten.
Bahkan, restoran ini mendapat pengakuan Michelin Bib Gourmand, sebuah penghargaan untuk makanan berkualitas dengan harga yang tetap terjangkau.
Namun, yang membuat menarik bukan sekadar penghargaan tersebut. Tamu datang dan pergi, tetapi rasa yang ditinggalkan seolah membawa pesan sederhana: very good.
Gulai ikannya menghadirkan perpaduan rasa asam, gurih, dan pedas yang tidak berlebihan.
Sementara gulai ayamnya justru tidak terasa terlalu pedas, tetapi memiliki karakter bumbu yang khas—rasa yang sederhana, namun meninggalkan kesan.***









إرسال تعليق