Xintiandi, Satu Kawasan paling Menarik dan Berkarakter di Shanghai

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Mungkin, bagi orang yang pertama kali berkunjung ke kawasan Xintiandi di Shanghai, kesan pertama yang muncul adalah rasa terkejut.

Kawasan ini tampak berbeda dari wilayah lain di kota tersebut.

Bangunan-bangunannya memiliki arsitektur yang unik, tertata rapi tanpa berjejer secara monoton, sehingga menghadirkan suasana yang seolah membawa pengunjung ke dunia lain. 

Nuansa khas Eropa begitu terasa, berpadu harmonis dengan sentuhan budaya Tiongkok, menjadikan Xintiandi sebagai salah satu kawasan paling menarik dan berkarakter di Shanghai.

Pada pagi hari, kawasan ini masih lengang. Deretan bangunan dengan beragam gaya arsitektur seakan belum bersiap menyambut para tamu yang datang. 



Hanya satu atau dua kedai yang telah membuka pintunya, kebanyakan kafe dan toko roti yang menawarkan aroma kopi dan roti hangat kepada para pejalan pagi.

Aku melangkah perlahan, menikmati bangunan-bangunan dengan beragam gaya, mulai dari sentuhan Eropa hingga nuansa Jepang. 

Meski tampil dengan karakter yang berbeda-beda, ada satu kesamaan yang mencolok: sebagian besar bangunan menggunakan susunan batu bata sebagai elemen utama fasadnya. 

Material itu menghadirkan kesan klasik, hangat, sekaligus menjadi benang merah yang menyatukan keseluruhan kawasan Xintiandi.

Di tengah langkah, hatiku bertanya-tanya. Mengapa begitu banyak bangunan di sini dihiasi merek-merek asing

Apakah karena sebagian besar kedai dan butik dimiliki oleh pengusaha mancanegara? 




Ataukah memang kawasan ini sejak awal dirancang sebagai ruang yang menghadirkan cita rasa internasional?

Pertanyaan itu terus mengusikku. Untuk mencari jawabannya, aku mencoba memasuki salah satu kedai yang sudah buka. 

Namanya Fascino, sebuah bakery yang cukup terkenal di Shanghai. 

Aroma roti yang baru keluar dari oven langsung menyambut begitu pintu dibuka, bercampur harum kopi yang memenuhi ruangan. 

Suasananya hangat dan nyaman, kontras dengan udara pagi di luar yang masih sejuk.

Sambil menikmati secangkir kopi dan sebuah croissant, pikiranku langsung melayang ke Perancis.



Selama ini aku mengira roti berbentuk bulan sabit itu hanya akan terasa sempurna jika dibuat di negeri asalnya.

Bentuknya yang renyah di luar dengan lapisan-lapisan tipis di dalam mengingatkanku pada bakery-bakery Eropa yang sering kulihat dalam foto.

Namun, begitu gigitan pertama menyentuh lidah, anggapanku berubah. 

Croissant itu begitu ringan, berlapis-lapis, dengan aroma mentega yang kaya dan rasa yang lembut.

Kualitasnya tak kalah dengan croissant yang pernah kucicipi di Eropa.

Saat itulah aku menyadari bahwa Shanghai bukan sekadar kota modern, melainkan juga kota yang mampu menghadirkan cita rasa dunia dengan standar yang sangat tinggi.

Meskipun toko bakerly ini mencantol papan nama asing, tapi setelah makan dan rasakan kegurihan roti ini, aku baru sadar pemilik kedai ini orang Tiongkok meskipun mereknya berbau asing.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut