Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Banyak orang membandingkan Xintiandi di Shanghai dengan SoHo (South of Houston Street) di Manhattan, New York.
SoHo pada abad ke-19 merupakan kawasan industri yang dipenuhi pabrik tekstil, gudang, dan bangunan komersial.
Ketika aktivitas industri berpindah ke luar kota, kawasan ini mengalami perubahan besar.
Bangunan-bangunan bersejarah tetap dipertahankan, sementara fungsinya berubah menjadi pusat seni, gaya hidup, kuliner, dan belanja yang kini menjadi salah satu kawasan paling bergengsi di Manhattan.
Kini aku berada di Xintiandi (新天地), Shanghai.
Dahulu kawasan ini adalah permukiman tua dengan rumah-rumah bergaya shikumen, yang menjadi ciri khas kota Shanghai.
Melalui program revitalisasi, kawasan bersejarah ini disulap menjadi destinasi gaya hidup modern tanpa menghilangkan karakter arsitektur aslinya.
Kini Xintiandi dipenuhi kafe, restoran, butik, dan galeri seni, serta menjadi tempat berkumpul kalangan muda, wisatawan, dan ekspatriat dari berbagai negara.
Meski berada di dua negara yang berbeda, SoHo dan Xintiandi memiliki kesamaan: keduanya berhasil mengubah kawasan lama menjadi ruang publik yang hidup, di mana sejarah tetap terjaga dan berpadu dengan kehidupan kota modern.
Berjalan di kawasan ini membuatku melihat sisi lain Tiongkok.
Di tengah kawasan yang memadukan bangunan tua dan sentuhan modern, anak-anak muda tampak memenuhi setiap sudut.
Mereka berswafoto, berpose, dan bergaya layaknya model yang sedang berada di atas panggung.
Suasananya hidup, penuh energi, dan meninggalkan kesan yang indah.
Sulit membayangkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir negeri ini mampu bertransformasi begitu pesat.
Penataan kota, pembangunan infrastruktur, dan kerja keras masyarakatnya telah mengubah banyak wajah kota menjadi modern tanpa sepenuhnya meninggalkan jejak sejarah.
Xintiandi adalah salah satu contohnya.***



















إرسال تعليق