Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Logo-logo merah Michelin yang berjejer di bawah nama Mr. Joe bukan sekadar tempelan.
Bagi pencinta kuliner, deretan itu menjadi penanda penting: sebuah pengakuan bahwa kedai ini memiliki reputasi rasa yang layak diperhitungkan.
Di tengah ketatnya persaingan kuliner Bangkok, nama Mr. Joe berhasil menempatkan diri sebagai salah satu yang paling diperbincangkan.
Mr. Joe, selaku pemilik merek, tentu patut berbangga.
Kedainya menyandang logo Michelin Guide selama empat tahun berturut-turut, dari 2023 hingga 2026. Pengakuan itu tentu mengundang banyak tamu datang untuk mencicipi hidangan yang ditawarkan.
Dari sisi bisnis, usahanya menjual kuay jab dengan andalan perut babi panggang renyah *moo krob* menuai banyak pujian.
Hidangan itulah yang mengangkat nama Mr. Joe hingga menjadi salah satu tujuan kuliner yang banyak dibicarakan di Bangkok.
Aku datang pada saat yang tepat, sedikit lebih awal dari jam makan siang.
Meski belum pukul 12.00, kedai Mr. Joe sudah ramai dipadati pengunjung.
Meja dan bangkunya tak tampak mewah. Ini bukan restoran yang mementingkan desain artistik atau dekorasi yang memanjakan mata.
Di depan, kulihat sang juru masak asyik mengiris babi panggang, seolah lalu-lalang tamu bukanlah urusannya.
Potong demi potong daging babi disusun rapi di atas piring-piring kecil sesuai pesanan pelanggan.
Gerakannya cekatan, nyaris tanpa jeda, seperti sudah dilakukan ribuan kali sebelumnya.
Aku memesan seporsi moo krob, perut babi yang menjadi andalan menu Mr. Joe.
Saat hidangan itu tiba, aroma daging panggang yang gurih dan sedikit berasap langsung tercium, berpadu dengan suasana kedai yang riuh oleh suara percakapan, denting peralatan makan, dan langkah para pelayan yang hilir-mudik.
Gigitan pertama terasa renyah, dengan bunyi kruek… kruek… kruek yang jelas terdengar.
Bunyi garing yang enak didengar.
Di balik kulitnya yang garing, dagingnya tetap lembut dan gurih, sementara lapisan lemak tipis yang menyatu dengan kulit memberi rasa kaya tanpa terasa berlebihan.
Gigitan kedua membuatku sadar bahwa kerenyahan babi goreng kering inilah yang membuatku terpana, sekaligus mengingatkanku untuk tidak menyentuh lemak yang menyatu dengan kulit perut babi.
Maka tak heran, inilah yang membuat tamu datang silih berganti.
Kelezatan kulit babi kedai ini mungkin tak jauh berbeda dengan kulit daging babi yang sering kumakan di daerah Sumatera, khususnya di lapo orang Batak, bahkan bisa lebih enak.
Bisa saja teknik memasaknya berbeda, tetapi garingnya kulit babi dan kualitas daging babi di Thailand dan di Sumatera sama-sama punya daya tarik tersendiri.
Resep dan rempah-rempah yang dipakai menjadi keunggulan masing-masing.***








إرسال تعليق