Oleh: Iman Sjaputra
JAKARTA - Aku senang berjalan-jalan ke food court di mal atau menjelajahi kawasan street food di setiap negara yang kukunjungi.
Bukan karena makanannya lebih murah. Bukan pula karena hidangannya lebih istimewa.
Yang paling kunikmati justru keragaman pilihan makanan yang tersaji di setiap gerai. Ada begitu banyak hidangan dengan cita rasa, warna, dan aroma yang berbeda.
Aku senang mengamatinya satu per satu, lalu timbul keinginan untuk mencicipinya.
Apakah itu mungkin? Tentu tidak. Waktu selalu terbatas. Lagi pula, di negara seperti Thailand, pilihan makanannya begitu melimpah sehingga mustahil dicicipi satu per satu.
Yang menarik, banyak food court di mal-mal Negeri Gajah Putih memiliki reputasi yang mengagumkan.
Meski gerainya hanya berukuran sekitar 2 × 3 meter, tidak sedikit yang memajang plakat atau logo merah Michelin, tanda bahwa kedai tersebut pernah memperoleh pengakuan dari Michelin Guide.
Sebuah kebanggaan yang membuat pengunjung semakin penasaran untuk mencicipinya.
Namun, bagiku, logo bergengsi itu hanyalah pintu pembuka sebuah gerai.
Setelahnya, yang berbicara adalah antrean. Orang-orang rela berdiri belasan hingga puluhan menit hanya untuk menikmati semangkuk mi kuah babi.
Pemandangan itu mengajarkanku bahwa kelezatan sejati tidak selalu membutuhkan ruang yang mewah.
Kadang, kelezatan lahir dari dapur kecil dengan resep yang dijaga turun-temurun.***





إرسال تعليق