Jakarta, JIA XIANG - Layang-layang atau layangan digemari anak-anak hingga orang dewasa.
Saat libur panjang sekolah biasanya musim layangan tiba. Di musim layangan, banyak pedagang yang menjajakannya.
Tak hanya menjual layangan, tapi juga benang untuk menerbangkannya.
Di musim layangan juga merangsang kreativitas anak-anak. Mereka pun terdorong untuk membuat layang-layang.
Ukurannya bebas. Ada yang kecil, ada yang besar.
Warga di Desa Liangkabori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), sudah sejak lama mengenal layang-layang.
Mereka membuatnya dari bahan yang tersedia di alam.
Layang-layang di sana dinamai Kaghati Kolope. Keunikan Kaghati Kolope terletak pada bahan bakunya yang sepenuhnya memanfaatkan hasil alam secara turun-temurun.
Daun umbi hutan (kolope) yang dikeringkan digunakan sebagai bahan utama badan layangan, bambu sebagai rangka, serta serat nanas atau serat kulit pohon sebagai talinya.
Itu sebabnya, layang-layang ini merupakan layang-layang purba. Jejak sejarahnya terekam jelas pada situs Goa Liangkobori, di mana terdapat lukisan dinding prasejarah yang menggambarkan orang sedang menerbangkan layang-layang.
Untuk melestarikannya, secara rutin digelar Festival Layang-Layang "Kaghati Kolope" di kawasan cagar budaya Goa Liangkobori.
Kegiatan itu sebagai upaya merawat dan melestarikan jejak peradaban berupa layang-layang purba.
Sementara di Kota Malang, Jawa Timur, ada kampung perajin layang-layang Sukhoi.
Produksi layang-layang dari sini telah menembus ekspor hingga Prancis dan Malaysia.
Layang-layang pun bisa menjadi agenda wisata. Tak hanya diselenggarakan di Bali.
Di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pun ada Sleman Kite Festival. Tak tanggung-tanggung, Acara tersebut bertaraf internasional.[JX/Win]





إرسال تعليق