Kelezatan Pangsit dan Kaldu Kuah Tutupi Kekurangan Cita Rasa Mi Wonton Canton

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Mi Canton dari Tiongkok tak jauh berbeda dengan mi di Hong Kong. 

Teksturnya halus dan gurih, panjang, serta tidak mudah putus. 

Mungkin keduanya memang bersaudara. Entah mana yang menjadi kakak dan mana yang adik. 

Jika dipajangkan berdampingan, barangkali bentuknya pun hampir sama.

Ketika berada di Guangzhou, aku mencoba mengamati mi Canton yang begitu populer.

 





Bahkan lembaga bergengsi Michelin merekomendasikan beberapa kedai terkenal. 

Aku pun tak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi dua di antaranya.

Yang pertama adalah Wu Cai Ji, sebuah kedai mi yang bangunannya telah berusia ratusan tahun, mengingatkanku pada kedai Long Men Ke Zhan dalam film-film silat. 

Tak tampak sedikit pun sentuhan modern, baik pada bangunan, meja dan kursinya, maupun dinding yang dihiasi mangkuk-mangkuk kuno. 

Seolah-olah tempat ini memang telah uzur, tetapi kaya pengalaman dalam profesinya sebagai warung mi.






Dasar aku orang yang gemar mencoba, penasaran bagaimana rasa mi dari kedai yang telah berabad-abad berdiri. 

Meskipun sadar tak akan sanggup menghabiskan semuanya, aku tetap memesan tiga hidangan: mi sapi, mi wonton, dan wonton isi daging kepiting.

Kucicipi satu per satu. Rasa kedua mi itu cenderung hambar. Teksturnya memang halus, tetapi saat digigit terasa agak kenyal dan padat, nyaris tanpa aroma yang menggugah selera. 

Kuahnya juga ringan, bersih, tetapi tidak meninggalkan kesan yang kuat di lidah. Berbeda dengan mi Hong Kong yang ketika digigit menghadirkan semerbak aroma udang di lidah. 

Boleh jadi mi Hong Kong berasal dari negeri Tirai Bambu juga, tetapi resepnya telah dimodifikasi.





Ibarat kakak beradik yang berasal dari keturunan yang sama, namun memiliki karakter yang berbeda.

Yang paling kukagumi justru pangsit wontonnya. Isian daging udang dan kepiting terasa padat, segar, dan manis alami, sehingga setiap gigitannya menghadirkan kepuasan yang tak kutemukan pada minya.

Pengalamanku di kedai berikutnya tak jauh berbeda. 

Rasa minya tetap tidak menonjol, begitu pula kuahnya yang tidak terlalu kaya aroma.

Sebaliknya, pangsit wontonnya dan kaldu kuahnya benar-benar menggoda selera.

Sepuluh butir pangsit yang kusantap seakan menghapus kekecewaanku terhadap rasa minya.

Barangkali soal rasa memang tak pernah bisa memuaskan setiap orang. 





Apa yang dianggap istimewa oleh banyak orang belum tentu meninggalkan kesan yang sama bagi lidah kita. 

Namun, perjalanan kuliner selalu menyimpan kejutan. 

Di Guangzhou, bukan semangkuk mi Canton yang paling membekas dalam ingatanku, melainkan kelembutan dan kelezatan pangsit wontonnya.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut