Jakarta, JIA XIANG - Si kulit bundar atau bola yang bakal dimainkan dalam ajang FIFA Piala Dunia 2026 telah mempunyai nama.
Trionda, demikian nama bola yang diproduksi oleh Adidas. Nama ini diambil dari bahasa Spanyol yang berarti "tiga gelombang," sebagai bentuk penghormatan bagi tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Di balik desain luarnya yang menggunakan konfigurasi inovatif 4-panel, Trionda adalah perangkat teknologi tinggi yang sangat canggih.
Sebab, sebelum bola digunakan harus diisi daya agar perangkat canggih dalam bola ini bisa diandalkan agar pertandingan berlangsung sportif.
Dengan demikian bola yang dimainkan berfungsi untuk memantau pertandingan.
Itulah sebabnya, bola itu harus "dicas" sebelum pertandingan.
Bola ini memang memiliki baterai untuk menghidupkan menghidupkan sensor:
Di dalam setiap bola Trionda tertanam sebuah sensor pintar berbobot ringkas sekitar 14 gram.
Sensor ini membutuhkan daya listrik agar bisa aktif dan memancarkan data selama pertandingan.
Dalam kondisi baterai penuh, sensor di dalam bola ini dapat bertahan sekitar 6 jam.
Durasi ini sangat aman untuk menutup waktu normal pertandingan 90 menit, perpanjangan waktu, hingga babak adu penalti.
Untuk pengisian energi baterai, jangan dibayangkan menggunakan kabel.
Pengisian dayanya nirkabel (Induction Charging).
Bola ini tidak memiliki lubang colokan fisik demi menjaga aerodinamika dan permukaan bola tetap rata.
Pengisian daya dilakukan secara nirkabel menggunakan sistem induksi, mirip seperti saat Anda menaruh ponsel di atas wireless charger.
Lantas bagaimana bola Ini terhubung dan memantau pemain?
Teknologi ini disebut sebagai Connected Ball Technology, yang dikembangkan Adidas bersama perusahaan sensor Kinexon.
Bola ini tidak bekerja sendirian, melainkan terintegrasi dengan ekosistem pelacakan canggih di stadion, yang meliputi:
Sensor 500Hz di Dalam Bola
Di salah satu panel dalam Trionda, terdapat sensor gerakan yang disebut IMU (Inertial Measurement Unit).
Sensor ini mencatat dan mengirimkan data pergerakan bola sebanyak 500 kali per detik (500Hz).
Artinya, setiap kali bola ditendang, menyentuh tangan (handball), atau sekadar bergeser sedikit, sensor akan mendeteksinya secara instan dalam hitungan milidetik.
Kamera Pelacak di Langit-Langit Stadion
Di sekeliling stadion, dipasang sekitar 12 kamera pelacak khusus yang diposisikan di bawah atap.
Kamera-kamera ini tidak merekam gambar biasa, melainkan melacak pergerakan fisik:
* Kamera melacak posisi bola secara spasial (3 dimensi).
* Kamera melacak 29 titik tubuh unik dari setiap pemain (termasuk ujung kaki, lutut, dan bahu) sebanyak 50 kali per detik.
Menggabungkan Data Bola dan Pemain
Sistem kecerdasan buatan (AI) di ruang VAR langsung menyatukan dua data tersebut: kapan tepatnya bola menyentuh kaki pemberi umpan (dari sensor bola) dan di mana persisnya posisi bek serta penyerang saat itu (dari kamera stadion).
Teknologi ini mendukung sistem Semi-Automated Offside Technology (SAOT).
Keputusan offside yang super tipis bisa ditentukan secara otomatis dan akurat dalam hitungan detik, menghilangkan perdebatan panjang yang sering terjadi di sepak bola masa lalu.
Selain itu, sensor ini mempermudah mendeteksi sentuhan halus seperti handball yang samar atau menentukan siapa pemain terakhir yang menyentuh bola sebelum keluar lapangan.
Dengan demikian Trionda bukan sekadar bola yang dimainkan tim kesebelasan yang bertanding, juga membantu wasit untuk mengawal kompetisi berlangsung sportif.[JX/Win]


إرسال تعليق