Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Jarang sekali aku memilih sarapan di hotel. Bukan karena makanannya kurang, sajiannya minim, atau rasanya tidak cocok di lidah.
Apalagi ketika berkunjung ke negara-negara Asia yang sering kukunjungi, pilihanku selalu makanan lokal yang autentik, kebanyakan dijual di kawasan perumahan atau food court yang menjadi tempat favorit warga setempat.
Namun, itu bukan berarti aku tidak menyukai hidangan hotel yang umumnya menawarkan beragam pilihan, mulai dari masakan Jepang, Tiongkok, hingga Eropa.
Bagiku, mencicipi makanan lokal serasa menyelami kehidupan dan suasana masyarakat setempat.
Pagi itu, langkah kakiku membawaku ke ICC Pudu, sebuah food court legendaris yang terkenal di Kuala Lumpur.
Tempat ini menjadi tujuan banyak warga lokal untuk menikmati sarapan.
Areanya luas, dengan aneka pilihan makanan yang tersaji lengkap.
Papan-papan nama setiap gerai terpampang jelas, memamerkan beragam hidangan khas.
Mataku tak henti-hentinya menyapu deretan papan itu, seolah setiap masakan menawarkan kelezatan yang sulit untuk dilewatkan.
Pandanganku akhirnya berhenti pada sebuah kedai dengan papan bertuliskan, "Lala Bihun Kuah."
Aku sempat bertanya-tanya, masakan apa itu lala? Ternyata, lala adalah sejenis kerang laut yang hidup di dasar pasir.
Pilihanku rupanya tidak salah.
Kuahnya gurih dengan sentuhan manis yang pas, sementara daging lalanya terasa lembut dan segar, berpadu sempurna dengan bihun yang menyerap kaldu.
Siapa yang tidak tergiur mencicipinya?
Barangkali, siapa pun yang menyantap semangkuk bihun kuah ini akan memberikan penilaian yang sama: sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam.***








Posting Komentar