Oleh: Iman Sjaputra
JAKARTA - Banyak kedai kopi di Penang, Malaysia. Salah satunya disebut-sebut kedai yang tertua di Penang.
Yang lain masih jauh lebih muda umurnya.
Usia kedai kopi tertua itu sudah seabad lebih. Didirikan pada tahun 1920. Bisa dijuluki kedai kopi jadul atau jaman dulu.
Pada tahun itu, peradaban belum seperti sekarang. Dunia bahkan masih berada di bayang-bayang perang besar pertama.
Dari tatanan dan desain kedainya, karena jadul, mungkin tak tampak mewah.
Kursi tua, meja sederhana masih tampak di ruang kedai. Pun dindingnya yang menyimpan usia kedai.
Tapi orang datang ke sini bukan untuk menikmati kemewahan tempat.
Mereka datang mencari rasa yang hilang dari lidah: pahit rasa kopinya, gula pasir yang larut perlahan, dan aroma bubuk kopi yang tetap sama sejak dulu.
Hanya saja, yang mengelola kini bukan lagi orang-orang tua dengan umur panjang dan pakaian sederhana.
Barangkali pengelolanya sudah generasi ketiga.
Namun rasa itu tetap bertahan, seolah waktu boleh berganti, tapi kopi tidak pernah benar-benar pergi dari soal rasa.
Sebab yang dicari manusia kadang bukan sekadar minuman, melainkan ingatan yang tinggal di dalam cangkir.
Itulah kedai kopi yang tua bernama Khong Thai Lai, di Penang, yang rasanya selalu dibawa bersama kenangan.
Aku mencoba secangkir kopi hitam. Rasanya tidak sepahit yang kubayangkan.
Kukira kopi jadul akan keras, terlalu pahit, dan kehilangan aroma.
Ternyata ia justru lembut, seolah menyimpan kenangan untuk tetap akrab dengan lidah pelanggan dan pecinta kopi.***










Posting Komentar