Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Hameediyah mengklaim sebagai restoran Muslim tertua di Malaysia. Orang awam di negeri jiran itu sering menyebutnya nasi campur, karena lauk-pauknya dipadukan dengan kuah rempah, sayur, dan daging.
Nasi ini dibawa oleh orang India Tamil Muslim yang dahulu menjajakannya di pasar dengan memikul dagangan di bahu.
Dari situlah lahir nama nasi kandar.
Hameediyah bercokol di Pearl of the Orient, Penang, sejak 1907.
Boleh jadi dia adalah abang tua; yang lain adalah saudara-saudara yang datang kemudian.
Lebih dari satu abad usianya, namun aroma rempah yang mengepul dari dapurnya membuat masa lalu terasa belum benar-benar pergi.
Di Penang, kami menikmati nasi kandar dengan lauk yang tersaji terpisah.
Ayam goreng, kari kambing, dan sotong goreng berbaris di meja hidang, menunggu dipilih sebelum kuah kari disiramkan ke atas nasi.
Sederhana, tetapi kaya rasa.
Namun ketika berada di Kuala Lumpur, aku menemukan sebuah restoran dengan nama yang sama.
Penyajiannya sedikit berbeda. Kuah melimpah membasahi nasi briyani, sementara sotong dan kambing menjadi pelengkap yang mengapit nasi, seolah-olah menjaga sepiring hidangan dari serbuan lapar para pengembara kuliner.
Meskipun namanya sama, boleh jadi mereka berasal dari satu keturunan.
Namun daerah yang berbeda melahirkan sentuhan rasa dan harga yang berbeda pula.
Barangkali karena itulah orang selalu ingin kembali ke tempat asal sebuah legenda bermula.
Sebab, di kampung halamannya, nasi kandar bukan sekadar makanan, melainkan sejarah yang masih terus disajikan dari generasi ke generasi.***








إرسال تعليق