Seratus Tahun dalam Setiap Tegukan Kopi

Oleh: Iman Sjahputra 

JAKARTA - Katanya, dia yang paling tua. Orang bisa bersyukur jika bisa hidup 100 tahun —sebuah abad penuh misteri yang membuatku bertanya-tanya. 

Benarkah ada kedai kopi yang telah berusia seratus tahun di Kuala Lumpur? Mengapa bisa tetap eksis? 

Di tengah modernisasi dan kafe-kafe modern yang menjamur, bagaimana kopi tiam kuno dan tradisional ini masih mampu bertahan? 

Namanya Dian, laki dan wanita tak jelas, dia bangunan tua, lantai semen dan bopeng, seolah tak terurus karena tuanya. 










Aku melihat asap mengepul di udara, aroma menyeruak. Apakah itu aroma kopi jadul atau sio may atau hak kaw  yang mengeluarkan asap di dapur. 

Suasana senyap waktu berputar pelan dan  karena alunan ragu terdengar jelas membuat kita terkantuk-kantuk. 

Satu persatu tamu datang. Yang kunjung bukan orang tua yang jalannya terlunta-lunta, tapi anak muda. 

Mungkin mereka sadar kopi tradisional tak bisa digantikan kopi industri.










Tradisi minum kopi tetap di kedai kopi jadul, bahkan yang berusia seabad. Karena keaslian, menu yang menggugah tetap di kedai klasik.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut