Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Bukan soal rasa, bukan pula mengenai keadaan, bukan juga tentang lokasi.
Namun, ia punya cerita. Cerita yang berkelanjutan, yang tertanam dalam memori dan emosi yang menggetarkan.
Ia bukan sesuatu yang harus dihafal, melainkan sesuatu yang tetap hidup, hadir dalam kegiatan, kepedulian, dan kebersamaan, karena ia tak pernah benar-benar tertinggal.
Kenangan kecil yang tak terlupakan.
Aku melihat di sebuah mal di Kuala Lumpur, sebuah toko legenda yang memasarkan kue-kue jajanan pasar.
Pikiranku langsung melayang ke masa kecil: kue angku, kue keranjang, kue bolu jadul, semuanya hadir pada momen yang tepat, seolah sengaja dipamerkan untuk membangkitkan ingatan.
Aku ingin mencoba lagi seperti dulu. Namun mungkin rasanya tak akan pernah mampu menandingi masa kecil, saat bermain kelereng di jalanan tanpa beban, tanpa hitung-hitungan.
Bukan soal merahnya, bukan pula karena coklat yang warnanya pudar.
Yang kukhawatirkan hanyalah satu: bahan pengawetnya.
Dulu, semua terasa lebih asli. Daun pandan yang wangi, kelapa yang diparut tangan, gula yang alamiah.
Namun zaman berkembang, dan dunia berubah. Bahan pengawet ada di mana-mana.
Lalu muncul pertanyaan yang diam-diam mengganggu, apakah ini masih layak dinikmati, atau hanya sekadar dicicipi agar tahu rasanya walau kenangan yang kucari mungkin tak akan pernah benar-benar kembali?
Aku pun hanya ingin kepastian.***






Posting Komentar