Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Kini cuaca di negara-negara Asia bisa disebut anomali.
Tak mengenal angin dan tak peduli ramalan, seolah pelapor cuaca pun bisa meleset sewaktu-waktu.
Kadang hujan turun tanpa ampun, genangannya meluas kemana-mana, tanpa mempedulikan pagi ataupun malam.
Cuaca gelap seperti ini membuat orang enggan keluar, bukan karena malas, melainkan karena banyak hal yang harus diprioritaskan: macet, janji, belanja, dan pekerjaan yang selalu menuntut didahulukan.
Terlebih saat rasa jenuh dan lapar datang bersamaan. Mau tak mau, jalan terbaik adalah menyusuri mal sambil cuci mata.
Mal di Kuala Lumpur berkembang dengan cepat. Di Food Dynasty, segala makanan serba ada, dari hidangan Barat hingga Asia, bahkan lebih dari cukup.
Tak sedikit pula gerai yang berdiri sendiri (stand alone).
Aku tertarik pada sebuah kedai karena namanya: Nyonya Colors. Seolah ada kaitannya dengan makanan Baba, makanan peranakan Melayu dan Tionghoa.
Boleh saja.Tak salah memesan untuk mencoba.
Kue-kue jajanan jadul tersaji rapi. Namun ada satu minuman yang menarik perhatianku: semacam campuran es dengan serba-serbi isian.
Di negeriku, itu disebut es campur. Variasinya berwarna-warni, sekilas mirip dengan yang ada di Indonesia.
Bedanya mungkin pada rasa manisnya.
Di Indonesia, manis bisa datang dari gula aren atau gula Jawa. Tapi di sini, tak kutemukan manis yang berbeda.
Rasanya seperti manis yang biasa, datar, tanpa jejak aroma yang khas.
Bisa saja sama rupa, tak mesti sama rasa. Setetes gula manis tak semestinya membuat rasa menjadi sempurna.***







Posting Komentar