Kuala Lumpur Bukan Sekadar Makanan

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Aku suka mampir ke Kuala Lumpur, Malaysia. Bukan semata karena profesi yang mengharuskan, melainkan karena ketertarikanku pada negara tetangga ini yang begitu beragam tak hanya makanan tapi juga etnik.

Makanannya macam-macam, hidangannya menyegarkan. 

Tak bosan-bosan mata memandanginya, meskipun perut sudah kenyang. 

Variasinya seperti tak ada habisnya: beribu rasa sedap yang sulit ditolak.

Malaysia juga kaya suku dan etnik. Rasa tak hanya satu, budaya pun tak hanya satu. 

Bahkan perbendaharaan katanya membuat kamus perbahasaan kita ikut bertambah kaya.

Itulah negara yang gencar menarik wisatawan, dan berhasil membuat siapa pun ingin kembali. 

Ibarat lagu berdendang, “kemarilah, kemari… hey hey kawan.”


Kadang kita lupa, hal-hal kecil pun bisa menjadi berita. 

Sederhana memang, apalagi dunia kini tersambung secara digital. 

Sampai sekarang aku masih heran, bahkan saat naik Grab pun penuh tanda tanya: mengapa biaya dasar angkutan termurah adalah 7,20 (tujuh ringgit dua puluh sen)?

Angka itu ganjil, dan sen menjadi penghitung jarak. Mengapa tidak sekalian 7,50 (tujuh ringgit lima puluh sen) agar lebih mudah bagi penumpang membayar dengan tenang?

Kadang dua puluh sen pun bisa menjadi kendala. Entah karena memang perhitungan sistem, taktik perdagangan, atau sekadar pengingat bahwa penumpang hampir tak mungkin membayar tepat dua puluh sen. 

Umumnya, penumpang memilih membulatkan, bahkan memberi satu ringgit lebih sebagai ungkapan terima kasih karena telah diantarkan sampai tujuan.


Bukan hanya makanan, bukan sekadar suka ria. Kadang, rasa heran pada hal kecil justru menjadi kenangan yang paling lama tinggal di kepala.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut