Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Usia tak muda lagi. Orang menganggap dia penuh pengalaman.
Dalam hal apa pun, umur sebegitu bukan sekadar tanda matang, tapi ranum—klasik dan tradisional, seperti kopi yang diseduh perlahan di pagi hari.
Setiap sudut kopitiam punya cerita.
Rotinya hangat, aromanya mengudara seolah baru keluar dari oven, dan kopinya pekat, pahit menempel di lidah seperti kayu terbakar.
Aku merasakan suasana kedai kopi jadul di Kuala Lumpur, Malaysia: ruangan tiga ruko yang panjang, bangunan kuno, dengan lantai berubin tua dan meja kayu yang telah banyak menampung cerita.
Kopitiam ini memiliki identitas yang kuat dengan nama “Hokaw”. Meski sudah berusia lebih dari 60 tahun atau setengah abad lebih, ia tetap eksis dan memukau tamu yang datang dan pergi tanpa keluhan.
Soal rasa memang tak sempurna—siapa yang bisa menilai manis seribu rasa?
Namun justru ketidaksempurnaan itu yang memberi karakter, membuat setiap tegukan kopi dan setiap aroma roti menjadi bagian dari pesonanya yang abadi.***













Posting Komentar