Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Mereka tak mau disebut generasi percuma.
Mereka paham betul bahwa usia membuat mereka tak bisa lagi aktif seperti dulu.
Mereka juga yakin, bergantung pada orang lain adalah sebuah kesengsaraan.
Karena itu, mereka tak ingin diremehkan seolah-olah sudah tak berguna.
Generasi ini jumlahnya tak sedikit. Namun, mereka baru dianggap hadir jika masih mampu berpartisipasi dalam berbagai hal.
Padahal hidup selalu membedakan satu dengan yang lain, dan tak semua orang sanggup melakukan segalanya.
Meski begitu, mereka pun tak bisa berbuat banyak.
Jika sudah dianggap hadir, mereka merasa cukup: tenang dan bergembira.
Aku sering melihat kelompok ini. Di mana pun aku berada, pemandangan seperti itu selalu ada.
Mereka bangun pagi, lalu berjalan-jalan ke taman bunga.
Ada yang menggerakkan badan dengan tekun, seolah tangan dan kaki harus terus bekerja agar hidup tetap terasa berarti.
Di Tiongkok, pada umumnya, generasi ini memiliki kelompok sendiri.
Mereka berkumpul, saling berdansa, saling menggenggam tangan, lalu bergerak mengikuti irama.
Yang masih sanggup tak hanya menggoyang pinggul; tangan dan kaki pun ikut diangkat, seolah dunia masih milik mereka.
Lain lagi di Hanoi, Vietnam. Para lansia berdansa sambil bertepuk bahu satu sama lain.
Bahu membahu dalam gerak yang sederhana, tetapi hangat.
Bagi mereka, tarian itu bukan sekadar hiburan—ia dipercaya melancarkan aliran darah dan menjaga tubuh tetap hidup.
Banyak juga yang sekadar kongko di kedai kopi setelah jalan pagi, menikmati kebersamaan sambil bernostalgia.
Rutinitas ini sederhana, tak mewah, tapi memberi rasa hadir dan berarti dalam hidup sehari-hari.***






Posting Komentar