Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Wajan itu mengepul, asapnya bagai embun yang mengudara.
Sementara itu, sodet mengaduk bahan pangan putih yang panjangnya tak sampai dua puluh sentimeter.
Ia diangkat dan diturunkan oleh gerak tangan yang tak berhenti—sekali, dua kali, tak terhitung jumlahnya.
Perasaanlah yang menghentikan, saat dirasa cukup.
Kecap asin dan kecap manis dituang dengan takaran berbeda. Udang, daging, dan sayur ditabur. Bawang putih tak ketinggalan, membuat rasa sejalan dengan aroma.
Aku paling suka melihat vibes seperti ini, apalagi di ruang terbuka.
Seperti street food di satu kota di Malaysia. Namun tak semua dapur terbuka; kadang kita hanya boleh curi-curi pandang, karena dapurnya transparan.
Makanan berat, kalau bisa, kuhindari. Melihat wok kadang membuatku kasihan pada perut tak sanggup menampung beban.
Namun ke kopitiam aku selalu dibuat penasaran. Ya, roti panggang, jajanan pasar, dan yang paling aku demen: kuetiaw goreng ala Malaysia.
Kebetulan aku duduk di salah satu kedai kopi jadul di Kuala Lumpur. Suasana pagi mendung, menu makan bervariasi.
Kopitiam ini, konon kabarnya, sudah berdiri seabad lamanya.
Lagu yang diputar hanya satu. Diputar terus-menerus tanpa henti, seolah pemilik kedai, yang sudah turun temurun, ingin mengingatkan tamu inilah lagu paling legenda.
Aneh juga pikiranku, melihat kedai kopi seperti zaman dulu.
Namun yang membuatku kaget adalah cara memesan menunya harus scan barcode, otomatis. Kedai tua tapi tak menampik modernisasi.
Tak hanya itu, gorengan yang biasa disebut kuetiaw membuatku bertanda tanya.
Seporsi terhidang di piring. Tampak di luarnya hanya telur dadar, seperti nasi goreng yang dikemas diatas telur.
Aneh tapi nyata, kubuka telur nya dalam kuetiaw goreng yang harum mengudara. Oh itu dia namanya inovasi, kreatif dan mempesona, makanan yang mengikuti zaman.
Aku menatap wok yang masih mengepul di balik kaca. Dan aku tahu, setiap asap punya cerita meski tak semua orang sempat membacanya.***






Posting Komentar