Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Aku, sampai saat ini, masih belum benar-benar memahami mala, untaian manik-manik kecil yang senantiasa digenggam para biksu di Tibet.
Katanya, jumlahnya harus 108 butir.
Aku tak pernah bertanya. Mungkin karena tak berani.
Bukan karena takut disalahkan, tetapi karena aku percaya: diam pun bisa menjadi bentuk penghormatan terhadap keyakinan yang tidak kupahami.
Aku memang tidak selalu percaya pada Feng Shui, seperti yang diyakini orang Tionghoa.
Tapi keyakinan, barangkali, bukan untuk diperdebatkan.
Ia cukup dihormati dalam jarak, dalam hati.
Bagi orang Tionghoa, angka 8 adalah angka keberuntungan angka yang diyakini membawa berkah.
Dan mungkin, seperti mala dan angka 108-nya, angka itu tak selalu harus dimengerti, cukup dihargai.
Aku juga tak tahu, apakah angka 108 dalam budaya biksu Tibet punya benang merah dengan angka 8 dalam kepercayaan Feng Shui?
Mungkin ya, mungkin tidak. Dan mungkin memang tak perlu selalu ada jawabannya.
Kala aku di biara Jokhang, aku melihat beberapa biksu berjubah.
Sebagian menggantungkan mala di leher, sebagian menggenggamnya erat.
Mulut mereka berkomat-kamit mungkin sedang melafalkan mantra, berdoa untuk ketenangan pikiran, atau menjawab dalam diam pertanyaan para penziarah yang tak terucapkan.***
Posting Komentar