Jakarta, JIA XIANG - China akan berburu energi surya atau matahari dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di luar angkasa.
Sesuai rancangan para ilmuwan China, PLTS itu akan berada lebih dari 32.000 kilometer (km) di atas permukaan Bumi, dengan ukuran sekitar 1 km ketika selesai dibangun.
Posisi PLTS sejauh itu bisa didapatkan akses ke sinar matahari yang konstan.
Selain itu, seperti dilaporkan Carscoops, baru-baru ini, stasiun tenaga surya berbasis ruang angkasa ini memiliki kepadatan energi yang 10 kali lebih besar dibanding panel surya yang biasa dipasang di atap rumah.
Sebab, sinar matahari di ruang angkasa jauh lebih kuat.
Untuk mengirim daya listrik itu ke bumi, dilakukan dengan mengubah listrik menjadi radiasi gelombang mikro, yang kemudian dipancarkan ke antena tetap di bumi.
“Kami sedang mengerjakan proyek ini sekarang. Ini sama pentingnya dengan memindahkan Bendungan Tiga Ngarai ke orbit geostasioner 36.000 km di atas Bumi," kata ilmuwan roket dan anggota Chinese Academy of Engineering (CAE), Long Lehao.
Bendungan Tiga Ngarai di Tiongkok adalah pembangkit listrik tenaga air yang dibuka pada tahun 2012 dan dengan kapasitas pembangkit listrik tahunan sebesar 100 miliar kWh.
Long mengklaim bahwa energi yang dikumpulkan dalam satu tahun dari stasiun luar angkasa akan “setara dengan jumlah total minyak yang dapat diekstraksi dari Bumi”.
"Three Gorges" adalah proyek raksasa yang membutuhkan waktu 18 tahun untuk menyelesaikannya, dan tidak akan ada perputaran yang cepat dalam proyek stasiun ruang angkasa surya.
Pembangunannya selama itu karena prosesnya yang sangat kompleks, seperti pengangkutan semua bagian stasiun surya ke orbit, termasuk mengembangkan roket pengangkat berat untuk pekerjaan itu.
Bila PLTS luar angkasa itu berhasil dibangun, listrik dari pembangkit itu dapat menerangi kota, termaduk menyalakan mobil listrik.[JX/Win]
Posting Komentar