Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Suara teriakan “pola, bola” menggema di udara. Tak henti-henti, meskipun tanpa komando yang pasti, di salah satu pusat makanan malam di Pasar Zhangye (Ganzhou Market / 甘州市场).
Mereka berteriak bukan untuk menyambut kedatangan tamu agung yang lewat, melainkan menawarkan makanan yang mereka jual.
Di depan kedai, meja-meja tersusun rapi. Asap mengepul di udara dan aroma dari kuali-kuali kecil menari di mana-mana.
Harumnya bikin menarik perhatian. Apa yang dijual?
Rasa penasaran menggelitik, sehingga mata melirik ke arah api yang menyala kecil.
Bola, pola—sebutan yang samar di tengah cuaca dingin. Apa sebenarnya yang mereka ucapkan?
“Cau bola”, “polo”, terdengar bersahut-sahutan, diorak-arik dalam kuali yang telah dipersiapkan.
Isinya daging kambing, sapi, atau unta. Potongan demi potongan dibolak-balik dalam kuali di atas api.
Aku tertarik untuk mencicipinya. Kucicipi, kurasakan, lalu kugigit. Kenyal dan sedikit keras.
Ini seperti daging yang pernah kumakan sebelumnya.
“Wow!” Ternyata sapi panggang di atas panci dengan api yang menyala.
Tetapi bunyi “bola, pola” itu masih mengusik rasa penasaranku.
Kutanyakan kepada pelayan, apa maknanya?
Tak lain, bolak-balik—diaduk dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dan dicampur semuanya.***







Posting Komentar