Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Suasana pagi di Dunhuang terasa sejuk. Matahari pun tampak masih malas menunjukkan kegagahannya.
Udara di luar sekitar 15–16°C. Sangat menyenangkan bagi orang-orang yang hidup di daerah tropis.
Jalanan di luar pun masih sepi. Kedai-kedai yang biasanya ramai pada malam hari kini tampak belum siap melayani orang-orang yang lalu-lalang.
Aku berjalan masuk ke sebuah gerai wonton chicken soup. Tujuannya tak lain untuk mengisi perut yang sejak kemarin terasa kosong.
Lapar, tetapi belum sampai mengganggu.
Papan nama kedai memperlihatkan berbagai menu.
Aku tak tahu apakah menu-menu yang terpampang itu akan memenuhi seleraku.
Tak apalah. Barangkali seporsi wonton soup dan mi Dunhuang yang kuning, tak jauh berbeda dengan mi di negeriku, cukup untuk mengganjal perut pagi ini.
Seporsi wonton dengan isi sepuluh biji terasa cukup.
Kucicipi satu per satu. Kulitnya tipis dan terasa lembut.
Namun, isinya—sayur, daging, dan hebi (udang kering berukuran kecil)—adalah sesuatu yang sudah lama tak pernah kusantap.
Di mulut terasa unik dan sedikit aneh. Ada rasa yang asing bagi lidahku.
Untungnya, kulit wonton yang tipis dan lembut sedikit mengurangi rasa tersebut.
Namun, yang kusaluti justru kesabaran sang koki. Sendirian, ia mampu melayani tamu-tamu dengan sigap.
Di satu tangan, gerakannya terus mengangkat dan menurunkan bahan-bahan wonton.
Mulutnya tak berhenti bercakap-cakap untuk menerima pesanan tamu.
Sesekali wajahnya menyunggingkan senyum, seolah tak ada keluhan.
Tak tampak sedikit pun kerepotan. Ia terus bekerja dengan tenang, seakan melayani tamu adalah sesuatu yang sudah menyatu dengan dirinya.
Pagi itu, aku bukan hanya menikmati sepuluh wonton di dalam mangkuk.
Aku juga menikmati sebuah pelajaran kecil tentang bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya dengan sabar dan sepenuh hati.***









Posting Komentar