Dari Jiayuguan ke Dunhuang: Menapak Jejak Jalur Sutera di Abad Modern

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Perjalanan menyusuri Jalur Sutera kini tak perlu lagi naik unta. 

Dahulu, perjalanan ditempuh pelan-pelan, hari demi hari, melewati berbagai rintangan dan hamparan gurun yang luas.

Kini, menelusuri jalur yang sama terasa begitu berbeda. Perjalanan antarkota tak lagi dihitung dalam hitungan hari, karena sarana transportasi telah menghubungkan hampir seluruh kota besar di Tiongkok.

Kereta peluru menjadi moda transportasi yang cepat dan nyaman. 

Dengan transportasi massal modern itu, perjalanan dari satu kota ke kota lain kini cukup ditempuh dalam hitungan menit atau jam.


Namun, meski zaman telah berubah dan teknologi telah mempercepat perjalanan, jejak sejarah Jalur Sutera tetap terasa. 

Dari Jiayuguan menuju Dunhuang (敦煌), perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga menyusuri kembali salah satu jalur perdagangan dan peradaban paling penting dalam sejarah.

Lalu, apa yang membuat Dunhuang begitu menarik?

Apakah hamparan gurunnya yang luas, atau sisa-sisa jejak sejarah masa lalu yang seolah masih menggoda untuk ditelusuri?

Dari Jiayuguan menuju Dunhuang, perjalanan pun tak memakan waktu lama.


Sekitar dua setengah jam, kita sudah tiba untuk menjelajahi jejak budaya lama yang masih tersimpan di kota ini.

Dunhuang bukan sekadar sebuah kota di tengah gurun. Ia adalah salah satu saksi perjalanan panjang Jalur Sutera—tempat bertemunya perdagangan, budaya, agama, dan peradaban yang telah berlangsung selama berabad-abad.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut