Bau Menyengat seolah Kekhasan Gurun Panas di Dunhuang

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Dunhuang bukan sekadar tentang hidangan. Bukan pula semata tentang ajaran agama Buddha, apalagi hanya tentang Jalur Sutra. 

Di tengah gurun yang panas dan bau yang menyengat, semuanya seperti bertemu: agama, budaya, perdagangan, sejarah, dan jejak perjumpaan manusia dari berbagai penjuru dunia.

Lalu, mengapa angkutan unta masih tetap bertahan ketika berbagai moda transportasi lain sudah tersedia?

“Ini budaya,” kata orang. Boleh jadi. Untuk pariwisata juga tak salah.



Namun, ketika berada di Mingsha Mountain and Crescent Moon Spring (鸣沙山月牙泉), Dunhuang, aku mendekati beberapa unta yang sedang “parkir”. 

Mereka tampak diam dan pasrah. Ada yang kepalanya merunduk, seolah sedang meratapi nasib dan menunggu kapan akan bertugas.

Mereka menunggu instruksi dari pawangnya. Setelah itu, tugas mereka dimulai: membawa wisatawan menembus hamparan pasir, di bawah matahari gurun yang menyengat.

Hidup unta-unta ini seperti tak berdaya. Sebagai angkutan manusia di gurun, apakah mereka masih diperlukan di zaman modern ini? 



Di bawah matahari yang terik, apakah manusia masih ingin mengendalikan seekor unta yang tampak terlunta-lunta, sementara aromanya begitu menyengat hidung, seolah hewan-hewan ini sudah lama tidak dimandikan?

Kehadiran unta-unta ini sebenarnya hanya untuk tujuan wisata, ataukah demi budaya yang perlu dilestarikan?***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut