Walau Disebut Buah Terpahit di Dunia, Pare Tetap Disukai sebagai Hidangan sekaligus Herbal

Jakarta, JIA XIANG - Rasa pahit pare tidak membuat buah ini dijauhi. Hampir di semua kedai nasi di Jakarta dan kota-kota lainnya, pasti menyajikan pare yang sudah ditumis. 

Penjaja gado-gado dan siomai pun menghidangkan pare.

Rasa pahit pare, ketika sudah diolah sebagai masakan membuat cita rasa hidangan menjadi bervariasi. Sebab rasa pahitnya tidak mendominasi.

Padahal pare kerap disebut sebagai salah satu yang paling pahit di dunia, sehingga buah ini diyakini bisa untuk penyembuhan.

Di India, negeri yang disebut-sebut tempat asal pare, sudah mengolahnya sebagai herbal. Buah ini, di sana,  telah menjadi bagian dari praktik Ayurveda, sistem pengobatan tradisional yang sudah diterapkan lebih dari tiga ribu tahun.

Di situ, pare digunakan untuk membantu menyeimbangkan kadar gula darah, meredakan gangguan pencernaan, hingga mengobati luka pada kulit.

Di China, ketika masyarakat mulai mengenal pare pada abad ke-14, juga memanfaatkannya sebagai bahan pengobatan tradisional  untuk mengatasi gangguan pencernaan, batuk kronis, hingga infeksi saluran pernafasan.

Di Tanah Air, pare telah dikenal ratusan tahun sebagai bahan pangan sekaligus ramuan herbal rumahan. 

Hingga kini, pare masih rutin dimasak menjadi sayur, disantap sebagai lalapan, maupun diolah menjadi jus di banyak rumah tangga Indonesia sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan sehari-hari.

Bahkan ada yang menanamnya di pekarangan rumah. Sebab, tanaman pare yang merambat bisa untuk penghijauan meski di lahan dengan luas sangat terbatas.[JX/Win]

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut