Setiap Piring di Kafetien 88 Punya Cerita

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Dari luar tak tampak kegiatan apa pun, seolah kedai ini tak membutuhkan estetika untuk menarik perhatian. 

Ia berdiri tenang di Kembang Jepun, kawasan tua Surabaya, Jawa Timur.

Mereka yang datang pun tampaknya adalah pelanggan tetap—tahu jalan, masuk begitu saja, lalu langsung mencari tempat duduk.

Kedai yang sangat sederhana ini konon telah berdiri sejak tahun 2008 dan dikelola oleh seorang perempuan bernama Ny. Lim.

Ada sebuah filosofi yang terasa menyenangkan: setiap piring punya cerita. 

Dari wajan, dari api tungku, hingga rempah-rempah yang diracik dengan sabar, semuanya menjelma menjadi sebuah kopitiam yang akrab dan bersahaja, bernama Kafetien 88.

Aku mampir ke gerai Jagalan untuk mencicipi racikan Ny. Lim, yang dijuluki sebagai pelopor kopitiam bergaya Malaysia–Singapura di Surabaya. 

Kursi dan meja yang sederhana, dengan desain tempo dulu, menghadirkan nuansa vintage yang hangat.


Secangkir kopi dan sepotong kaya toast seolah melengkapi suasana.

Aku membayangkan, pada masa itu belum banyak kedai kopi yang mengusung filosofi seperti yang diyakini Ny. Lim. 

Menjadi yang pertama bukan sekadar soal membuka usaha lebih awal, melainkan tentang menghadirkan cara menikmati kopi dan makanan yang berbeda. 

Kalimat itulah yang tertulis dalam katalog Kafetien 88 dan tanpa sadar mengundang perhatianku.

Soal rasa kopi dan kaya toast, tentu setiap orang memiliki penilaiannya sendiri.

Namun di Kafetien 88, setiap piring dan setiap gelas seolah memang menyimpan cerita, seperti tema yang diusung Ny. Lim bahwa makanan bukan sekadar untuk dinikmati, melainkan juga untuk dikenang.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut