Jakarta, JIA XIANG - Stasiun Tawang bukan sekedar gerbang masuk ke Kota Semarang. Gedung berusia seabad lebih itu identik dengan ibu kota Jawa Tengah itu. Maka tak salah bila bungkusan wingko babat bergambar Stasiun Tawang.
Gambar Stasiun Tawang pada bungkusan itu menegaskan bahwa wingko babat merupakan makanan khas Semarang.
Stasiun Tawang, kini, semakin fenomenal seiring peningkatan jumlah kunjungan ke Semarang.
Sebagai stasiun kelas besar tipe A, Stasiun Tawang melayani hampir seluruh layanan kereta api penumpang yang melintas di Kota Semarang.
Kendati zaman telah berubah, gedung Stasiun Tawang tetap dipertahankan keasliannya. Perbaikan telah dilakukan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 4 Semarang terhadap bangunan cagar budaya itu.
Sebagai bangunan yang berstatus cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW007/MKP/2010, proses renovasi turut melibatkan ahli cagar budaya.
Hal ini untuk menjaga nilai historis bangunan, dan sesuai dengan ketentuan Undang-undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Renovasi dilakukan beberapa tahap. Tahap pertama, yang dilaksanakan sejak 5 Mei hingga 30 Desember 2025, meliputi penataan ruang tunggu luxury, ruang VIP, hall utama, perbaikan selasar, serta peningkatan sistem drainase untuk mengantisipasi genangan dan banjir pada musim hujan.
"Renovasi ini bertujuan mengembalikan keaslian fasad arsitektur sejarah, mengatasi persoalan genangan air dan banjir rob, sekaligus meningkatkan fasilitas dan kenyamanan layanan bagi pelanggan," jelas Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).
Untuk diketahui stasiun ini dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer dan dibangun oleh Nederlandsch-Indische Maatschappij (NISM) pada tahun 1911 hingga diresmikan pada tahun 1914.
Program renovasi diharapkan bisa mengembalikan fasad Stasiun Tawang ke bentuk aslinya, sehingga Stasiun Semarang Tawang bukan sebagai tempat kedatangan dan keberangkatan tapi juga menarik para wisatawan.[JX/Win]


Posting Komentar