Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Kota Guangzhou di Tiongkok dikenal sebagai surga kuliner.
Di hampir setiap sudut kota, kedai makan dan restoran berjejer di sepanjang jalan.
Selain itu, pasar-pasar malam yang tersebar di berbagai lokasi selalu ramai dikunjungi.
Beragam hidangan bercita rasa lezat membuat Guangzhou dijuluki sebagai “gudang makanan”, seolah tidak ada masakan yang tidak menggugah selera.
Tak heran banyak restoran, kedai kecil, hingga lapak kaki lima meraih berbagai penghargaan.
Pengakuan terhadap para pelaku usaha kuliner tak lepas dari budaya masyarakat Guangzhou yang gemar makan dan berkumpul.
Mereka senang menikmati hidangan sambil berbincang santai bersama keluarga, sahabat, maupun rekan bisnis.
Tak sedikit pula pertemuan bisnis dilakukan di meja makan.
Tradisi yum cha, yaitu menikmati teh sambil menyantap aneka dim sum pada pagi atau menjelang siang, menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Guangzhou.
Berbagai hidangan seperti siu mai, baozi (bakpao), har gow (hakau), bubur ayam, cheung fun (kwetiau gulung), dan mi halus hampir selalu menghiasi meja sarapan.
Salah satu restoran yang terkenal adalah Dim Dou Duk (点都德), rumah makan dim sum legendaris yang telah berdiri sejak 1933.
Restoran ini menjadi tujuan warga lokal maupun wisatawan yang ingin menikmati cita rasa dim sum khas Kanton.
Antrean panjang pada jam sarapan dan makan siang menjadi pemandangan yang lumrah, menandakan betapa kuatnya tradisi kuliner di kota yang dijuluki sebagai gudang makanan Tiongkok.
Aku pun mencoba berbagai jenis hidangan, mulai dari siu mai hingga cakwe (youtiao).
Di Jakarta, cakwe biasanya disantap bersama secangkir kopi.
Namun di Guangzhou, makanan ini lebih lazim dinikmati sebagai pendamping teh hangat.
Ukuran cakwe di sini pun boleh dibilang jumbo, hampir sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Selain Dim Dou Duk, tak kalah terkenal adalah Tao Tao Ju (陶陶居). Restoran legendaris ini juga selalu dipadati pengunjung, terutama pada waktu sarapan.
Beragam hidangan dim sum yang lezat dengan harga yang relatif terjangkau menjadi daya tariknya.
Siapa yang tak tergoda menikmati sajian yang sedap dengan harga yang ramah di kantong?
Tak heran, banyak orang rela datang dan mengantre untuk mencicipinya.
Menikmati kuliner di Guangzhou bukan hanya merasakan kelezatan hidangannya, tetapi juga menyaksikan budaya masyarakat Tiongkok yang gemar berkumpul sambil menikmati makanan dan bercakap-cakap.
Dari meja makan, terjalin keakraban, persahabatan, bahkan urusan bisnis.
Tak heran jika Guangzhou layak menyandang julukan sebagai “gudang makanan”, kota yang memanjakan lidah sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kulinernya.***









Posting Komentar