Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Kedai ini sederhana. Letaknya di sebuah lorong kecil yang setiap hari dilalui orang-orang yang datang dan pergi.
Tanpa promosi, tanpa media sosial, tanpa TikTok, atau strategi pemasaran digital yang kerap mendongkrak omzet penjualan.
Namun, kios kecil, yang di Guangzhou, Tiongkok ini nyaris tak pernah sepi.
Pengunjung datang silih berganti. Ada yang duduk menikmati hidangan, ada pula yang rela berdiri, menyesuaikan dengan kursi dan dingklik yang tersedia di depan kios.
Kesederhanaan tempat ini justru menjadi daya tariknya, seolah membuktikan bahwa cita rasa yang baik akan selalu menemukan penikmatnya.
Di tengah kesibukan itu, papan nama kedai justru luput dari perhatianku.
Saat melintasi lorong tersebut, yang lebih dulu menarik perhatianku justru keramaian di depan kios kecil itu.
Rasa penasaran pun muncul apa yang dijual sepasang kakak beradik ini hingga pengunjung terus berdatangan?
Dari balik meja kerja, salah seorang di antara mereka tampak menuangkan adonan tipis ke atas alat masak, lalu mengolahnya dengan gerakan yang cekatan.
Saat itulah aku menyadari bahwa mereka sedang membuat Cin Ciong Fan, hidangan khas Tionghoa berupa lembaran tipis adonan tepung beras yang dikukus, kemudian digulung dan disajikan dengan aneka isian atau saus.
Aku pun memesan seporsi dengan isian jamur. Pilihan itu sedikit berbeda dari Cin Ciong Fan yang biasa kunikmati, yang umumnya berisi udang atau char siu.
Perbedaan itulah yang membuatku semakin penasaran menanti suapan pertama.
Aku mengangkat selembar Cin Ciong Fan. Kulitnya begitu tipis, tetapi tidak mudah robek, seolah lembut bagai salju.
Saat suapan pertama menyentuh lidah, teksturnya benar-benar lembut, nyaris selembut kapas.
Sekejap hatiku berkata, inilah Cin Ciong Fan terenak yang pernah kunikmati.
Setiap kunyahan menghadirkan kenikmatan yang membuatku ingin segera mengambil suapan berikutnya.***








Posting Komentar