Oleh: Iman Sjahputra
JAKARTA - Makan apa di Guangzhou? Rasanya tak ada yang perlu diragukan.
Di mana-mana serba ada dan, kata banyak orang, jarang mengecewakan.
Tak heran, bagi kebanyakan wisatawan, berkunjung ke kota Canton tak pernah lepas dari urusan kuliner.
Orang tak perlu bingung memilih makanan sesuai seleranya. Di Guangzhou, dim sum memang yang paling populer.
Namun, mencoba masakan lain juga tak akan mengecewakan.
Kebetulan aku mampir ke sebuah kedai yang bukan menyajikan masakan Kanton, melainkan masakan Hunan.
Yang menarik perhatianku adalah bangunannya yang tampak kuno.
Saat lewat, aku melihat plakat merah Michelin terpampang di depan kedai.
Dalam hati aku berpikir, restoran ini pasti punya kualitas yang layak direkomendasikan.
Aku memesan beberapa hidangan, yaitu sapi masak kuali dan kol tumis dengan daging babi.
Menurutku, kedua masakan ini rasanya cukup enak, meski masih tergolong biasa saja.
Daging sapinya agak alot sehingga sensasi gigitannya tidak selembut daging sapi Amerika yang empuk.
Namun, yang paling menarik justru bukan hidangannya.
Di tengah santap siang, alunan seruling mengudara, lembut dan menghanyutkan.
Sejenak aku merasa seperti berada di dalam kisah silat Mandarin, ketika seorang pendekar melintasi pegunungan berkabut dengan iringan musik yang syahdu.
Suasana itu membuat pengalaman makan siang di Guangzhou terasa lebih berkesan dari pada rasa makanannya sendiri.***










Posting Komentar