Senjakala Pasar Otomotif Merek Barat di China

Jakarta, JIA XIANG - Selama puluhan tahun lalu, otomotif buatan sejumlah negara fdi Eropa merajai  pasar domestik China. 

Namun sekarang, mobil-mobil buatan Eropa tak terlalu diminati warga China. Seperti diberitakan BBC, merek kelas dunia dari benua biru masih menguasai 64% market share di China hingga 2020.

Kini, angkanya menyusut jadi hanya 32% saja. Susah barang tentu kondisi ini mengejutkan produsen otomotif dari Eropa.

Terlebih General Motors dan Volswagen yang selama ini menjadikan pasar domestik China sebagai mesin uang utamanya.

Mobil-mobil ramah lingkungan buatan China menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Semua segmen, dari yang harganya murah, menengah hingga mahal, dikuasai merek-merek dalam negeri.

Huawei, salah satu brand dengan kelas premium sebagai contohnya. Produk terbarunya Huawei Maextro S800, kini, jadi sedan mewah terlaris di China untuk kategori di atas Rp 1,7 miliar.

Saking larisnya, warga China tak tertarik untuk memiliki kendaraan mewah buatan Eropa. 

Sejumlah brand seperti Porsche Panamera dan BMW seri 7, yang sebelumnya jadi raja pada segmen tersebut, berangsur tersisih.

Mobil-mobil buatan China pun bermunculan dan membanjiri pasar dalam negeri, walaupun pasar domestik China  sedang mengalami perlambatan pertumbuhan.

Kompetisi antara produk satu dan lainnya sangat ketat. Perang harga di dalam negeri tak terelakan dan sangat sengit.

Jumlah yang diproduksi pun melimpah. Hal ini mendorong banyak brand melakukan ekspansi pasar secara agresif ke banyak negara, termasuk Asia Tenggara.

Serbuan mobil-mobil ramah lingkungan ke negara-negara di Eropa tak terbendung. Pasar di sini memberi sambutan sangat baik walau dihadang oleh bea masuk tinggi.

Ekspansi merek-merek mobil ternama asal China sulit dihalangi.

Chery Jaecoo 7, misalnya, berhasil menjadi salah satu model baru terlaris di Inggris hanya dalam 14 bulan sejak diluncurkan.

Capaian yang, beberapa tahun lalu, mungkin rasanya sulit dibayangkan dari merek yang hampir tidak dikenal di Eropa.

"Jika Anda menutup mereka dari satu pasar, mereka akan mencari pasar lain," kata konsultan James Pearson.

Pernyataan menarik juga dilontarkan Russo. Dia bilang, brand yang mau berkolaborasi dengan merek asal China masih punya peluang.

Tapi yang memilih untuk menghambat kebangkitan China justru berisiko makin ketinggalan.

Berlebihan? Bisa jadi tidak. Volkswagen kabarnya sudah membayar 700 juta dolar untuk mendapatkan akses ke arsitektur perangkat lunak dan sistem otonom XPeng. Volkswagen mengakui teknologi tersebut tidak akan bisa dikembangkan sendiri di Jerman dengan cukup cepat.

Stellantis juga sudah menandatangani kesepakatan senilai 1 miliar euro dengan Dongfeng untuk memproduksi model Peugeot dan Jeep di China, sekaligus membawa merek EV Voyah milik Dongfeng ke Eropa. 

Setali tiga uang dengan Toyota, Hyundai, Ford, dan Nissan, yang juga memperluas operasi riset di China, menggunakan sumberdaya lokal untuk pengembangan produk dan teknologi.[JX/Win]

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut