Jakarta, JIA XIANG - Nikel, hasil tambang dari bumi Indonesia, sangat bagus untuk bahan utama baterai mobil elektrik.
Seiring investasi industri mobil elektrik yang begitu besar di Tanah Air, diharapkan nikel pun terserap ke industri-industri itu.
Memang bukan hanya nikel yang digunakan untuk bahan utama baterai mobil elektrik. Ada baterai lithium ferro phosphate (LFP).
Ada kecenderungan industri mobil elektrik menggunakan baterai LFP, walau harus impor. Hal tersebut tak diabaikan pemerintah dengan memberi insentif lebih besar kepada konsumen dalam negeri yang membeli mobil elektrik berbaterai nikel.
Penerapan kebijakan insentif mobil elwktrik (Electric Vehicle/EV) berdasarkan jenis baterai dinilai langkah strategis yang bisa menguntungkan Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia.
Seperti penuturan Pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu.
"Ini adalah langkah proteksionisme strategis untuk memaksa merek EV yang membangun pabrik perakitannya di Indonesia, terutama dari China, berhenti bergantung pada LFP impor dan mulai beralih ke ekosistem nikel domestik kita." katanya seperti dikutip dari antaranews.com, Minggu (25/1/2026).
Menurut dia, penerapan skema insentif EV berbasis jenis baterai merupakan bagian dari upaya untuk mengintegrasikan industri hulu nikel dengan industri hilir, yang mencakup produksi sel baterai hingga kendaraan listrik.
Ia menjelaskan bahwa baterai merupakan komponen termahal dalam sebuah kendaraan listrik, mencakup 40–50 persen dari total biaya produksi.
Penggunaan baterai berbasis nikel yang bernilai lebih tinggi akan mempercepat pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen dalam produksi kendaraan serta memungkinkan Indonesia menikmati lebih banyak nilai tambah dari kegiatan industri.
Selain itu, baterai nikel memiliki densitas energi lebih tinggi. Dengan demikian, kendaraan listrik buatan Indonesia yang menggunakan baterai berbahan nikel bisa punya jarak tempuh lebih jauh dan spesifikasi yang lebih unggul dibandingkan mobil listrik standar dengan baterai LFP.
"Strategi ini cerdas secara makro karena memanfaatkan keunggulan densitas energi nikel untuk menjadikan mobil EV buatan Indonesia memiliki jarak tempuh lebih jauh, spesifikasi tinggi, dibandingkan EV standar global yang sekedar memakai LFP," kata Yannes.
Meski punya densitas energi lebih tinggi dan bisa mendukung peningkatan performa kendaraan, baterai berbahan nikel biaya produksinya per kWh 35–40 persen lebih mahal dibandingkan baterai LFP serta membutuhkan sistem manajemen panas dan keselamatan yang lebih kompleks.
Yannes mengemukakan perlunya dukungan pemerintah untuk menutup selisih biaya produksi baterai nikel agar harga kendaraan listrik dengan baterai nikel tetap terjangkau bagi konsumen di pasar domestik dan industri nasional dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Untuk diketahui Kementerian Perindustrian mengusulkan industri otomotif tetap mendapatkan insentif pada periode fiskal tahun 2026.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa skema insentif otomotif yang diusulkan akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk segmen kendaraan, jenis teknologi, bobot TKDN, dan jenis baterai yang digunakan.
Dia mengemukakan bahwa ada kemungkinan kendaraan listrik dengan baterai LFP mendapat insentif lebih kecil dibandingkan dengan mobil listrik yang menggunakan baterai berbahan nikel.[JX/Win]


Posting Komentar