Kesan dari Tibet (22): Berkereta melintasi Puncak Tertinggi Tanggula Pass

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Sudah seminggu aku berada di Tibet. Tak terasa, proses aklimatisasi berjalan dengan baik. 

Sejak pertama tiba, kepala tak pusing, badan pun tak lesu. Mungkin tubuhku memang mudah beradaptasi. 

Atau barangkali makanan harian diam-diam telah mengimunkan sekujur tubuh. Atau bisa jadi, rutinitas olahragaku telah menyiapkan jasad ini untuk menerima tamu asing yang bisu: udara tipis nan dingin.

Apa pun alasannya, yang pasti: aku baik-baik saja. Dan untuk itu, tak ada kata yang lebih layak selain bersyukur.

Kini, saat waktunya pulang, dua pilihan terbentang: pesawat atau kereta.

Burung besi sudah kucoba—cepat, efisien, tanpa lelah.

Namun kereta? Aku belum tahu. Apakah ia hanya lambat, atau justru penuh cerita?


Di antara rel yang membelah salju dan padang rumput, mungkin ada jeda—untuk mengenang.

Untuk merangkum keheningan Tibet dalam detik-detik yang tertinggal.

Maka biarlah aku pulang perlahan, sambil membawa Tibet dalam kenangan.

Keretaku mulai bergerak dengan lambat.

Kata pemanduku, dari Lhasa ke kota Chengdu butuh waktu 35 jam.

Waktu yang panjang untuk duduk, bergoyang bersama besi, menyatu dalam ritme perjalanan yang enggan tergesa.

Sempat kuragu, akankah tubuh ini tahan?

Tiga puluh lima jam bukan waktu yang singkat.


Tapi tak ada pilihan lain. Ini jalanku pulang. Dan aku memilih untuk tetap ikut, meski hati masih ingin tinggal sebentar lagi.

Aku menoleh ke jendela. Gunung-gunung berdiri diam, seperti penjaga yang tak mengucapkan selamat tinggal, hanya membiarkanku pergi dengan tatapan yang tetap.

Pagi berganti siang. Siang menyusup ke malam.

Tak ada yang bisa kulakukan selain menunggu, dan merenungi.

Bahwa barangkali, pulang memang bukan sekadar kembali, tapi cara perlahan-lahan melepaskan.

Malam tiba. Soft seat tempatku bersandar tak menawarkan tidur yang nyenyak.

Tubuhku gelisah. Kerongkongan mulai terasa panas, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam—menusuk, sampai ke ulu hati.


Aku bangkit, mencari air panas. Kuteguk berkali-kali. Namun rasa itu tak juga reda.

Apa ini karena perubahan suhu? Dari dingin ke panas?

Ataukah karena tekanan udara menipis saat kereta perlahan menanjak ke dataran tinggi?

Aku tak tahu. Tak ada kepastian. Hanya tubuh yang bicara, dan aku, yang duduk diam, mendengarkannya dalam senyap.

Esoknya, barulah aku sadar: rasa panas dan sesak semalam bukan tanpa sebab.

Kereta ini telah membawaku melewati Tanggula Pass, puncak tertinggi sepanjang perjalanan dari Lhasa ke Chengdu.

Di titik itu, aku berada di ketinggian lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut.

Tak terlihat plang peringatan, tak terdengar suara perayaan.

Hanya tubuh yang mengabarkan, dengan cara yang sunyi namun pasti bahwa aku sedang melintasi atap dunia.


Akhirnya aku tiba di Chengdu, kota yang dikenal dengan jutaan hotpot yang mengepul dan ribuan panda yang bersantai.

Kota ini tak sehening Tibet, tapi menyimpan kehidupan yang hangat dan terbuka.

Aku pun ingin mencicipinya, perlahan-lahan, sebagaimana aku belajar menikmati pulang, tanpa tergesa, tanpa lupa pada perjalanan yang telah kulewati.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut