Kesan dari Tibet (18): Potala, Doa Spiritual yang Membara

Oleh: Iman Sjahputra

JAKARTA - Sering orang bertanya ke Tibet mau kemana? Jawaban tentu tak hanya satu. 

Kadang orang mau lihat pemandangan. Tak jarang juga orang mau main di padang rumput.

Dan kadang pula tak sedikit yang ingin menggembara, tak sama memang tujuan bepergian. 

Tibet, negeri yang menimbulkan beribu pertanyaan. 

Ya, udara, tipis mengejutkan. Ya keindahan, tergantung di desa dan di dataran yang mana? 

Ya doa, biara, para biksu bermeditasi, mungkin ini salah satu alasan turis datang.





Untuk Tibet, umumnya bukan keindahan alam yang diburu. Mungkin keheningan dan kesunyian dalam gelora diam.

Aku ke Potala bukan tanpa arah. Hatiku penuh kegalauan. 

Dari kejauhan tampak bangunan tua berwarna merah putih. 

Keunikannya membuatku terpukau, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. 

Pertanyaanku mungkin mengada-ada mengapa istana Potala yang dulu sebagai tempat berteduh dan persinggahan Dalai Lama seolah telah berfungsi sebagai tempat doa. 






Tempat penziarah melepaskan kesunyian dan pusat para biksu membaca mantra.

Apakah karena kebanyakan turis datang ke sini bukan melihat barang-barang peninggalan Dalai Lama, juga bukan untuk mencari jejak-jejak sejarah, tapi barangkali hanya memburu keselamatan, kesehatan dan rezeki, sehingga keliling istana Potala bukan semacam fast looking, namun lebih terarah pada mengelilingi kora yang tak bersuara.***

Post a Comment

Klik di atas pada banner
Klik gambar untuk lihat lebih lanjut